
Menjadi seorang polisi wanita (Polwan) hampir tidak pernah terbayang di benak Bripda Handira Laksminita. Dara cantik kelahiran Malang, 28 Juli 1996 ini berasal dari keluarga yang kebanyakan berprofesi sebagai guru.
Handira, sapaan akrabnya mengaku masuk bisa Polwan setelah melihat sosialisasi para senior Polwan di sekolahnya SMAN 1 Malang, Jawa Timur.
“Ya, meski dari keluarga guru, tapi waktu melihat senior promosi kok kelihatannya jadi polwan itu banyak tantangannya. Ya sudah akhirnya putuskan daftar masuk polisi dan Alhamdulillah orangtua juga mendukung. Padahal tidak ada keluarga yang jadi polisi sebelumnya,” ujar dara cantik ini.
Mendaftar di Polda Jatim, akhirnya Handira pun diterima dan menjalani pendidikan di Sepolwan Jakarta selama enam bulan.

Bripda Handira Laksminita
Kejutan datang setelah lulus tahun 2015 lalu. Dia rupanya tidak dikembalikan ke daerah asal, tapi langsung ditempatkan di Banjarmasin bersama 13 orang rekannya yang sama-sama dari Jatim.
“Awalnya cukup kaget karena belum pernah sama sekali ke Kalimantan, apalagi Banjarmasin. Tapi yang namanya tugas dan sebagai anggota Polri, harus siap ditempatkan dimana saja. Di Polresta Banjarmasin untungnya ada 3 orang dari Jatim yang ditempatkan di sini, termasuk saya,” kata Leting Polwan 43 ini semangat.
Bripda Handira sendiri kini bertugas di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polresta Banjarmasin.
Banyak pengalaman baru yang didapat setelah masuk polisi dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Handira, khususnya di unit yang kini jadi tempat tugasnya.
“Kalau dulu sebelum masuk polisi, bayangan kita itu jadi Polwan kan sangar. Ternyata tidak. Sebagai polisi harus humanis. Apalagi di tempat tugas saya sekarang, banyak bersinggungan dengan kasus yang berhubungan dengan anak-anak. Tidak mudah untuk bisa melakukan pendekatan dengan anak-anak yang terlibat kasus pidana, entah sebagai korban maupun pelaku. Kita harus bisa menempatkan diri dan menjadi mereka supaya bisa terbuka,” ujarnya.
Nah menariknya, menjadi seorang polwan mengingatkannya pada komik Detektif Conan yang jadi bacaan favoritnya saat masih duduk di bangku sekolah.
“Pas penyelidikan ternyata sedikit banyak mirip dengan yang dilakukan oleh Detektif Conan. Ada manfaatnya juga ternyata hobi saya baca komik dulu,” pungkasnya sambil tersenyum
